-->

Kw Header



Tuntunan Rohani Bagi Orang Sakit

Tuntunan Rohani yang sangat diperlukan oleh orang sakit agar mampu menghadapi cobaan sakit

Koesrow - Bila saat ini Anda sedang dirawat atau dalam pengobatan karena adanya cobaan berupa sakit, adalah sangat arif bila Anda menghayati intisari tuntunan rohani berikut ini:

1. Sabar dalam menghadapi musibah
Musibah dalam Islam memiliki pengertian khusus, ia memang sesuatu bala yang menyusahkan, tetapi bukan selalu berarti tanda kemurkaan dari Allah, sebagaimana kenikmatan bukan merupakan tanda keridhaan dari Allah. Islam menjadikan musibah sebagai tanda bagi pendakian rohani seseorang, atau sebagai cara dan sebagai sebab untuk memperoleh pahala yang besar dari Allah. Apabila kita ditimpa musibah kita tidak kuasa untuk menolaknya, oleh sebab itu hendaklah kita terima dengan lapang dada dan penuh kesabaran.

Pengertian sabar menurut bahasa "Tabah hati" penghapusan dosa dari orang mukmin berani atas sesuatu dan menahan diri dari keluh kesah.

Sabar menurut istilah "Perasaan menerima keadaan yang terjadi pada dirinya dengan ikhlas dan ridha".

Barangsiapa yang mendapatkan cobaan (musibah) kemudian dapat menerima dengan sabar, ikhlas dan ridla maka akan disediakan pahala baginya.
Firman Allah dalam Al-Qur'an:

Firman Allah dalam Surat Az-zumar ayat 10 tentang sabar

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Manusia akan diuji dalam segala sesuatu, dalam hal-hal yang disenangi dan disukainya, maupun dalam hal-hal yang dibenci dan tidak disukainya.
Allah berfirman:
Firman Allah dalam Surat Al-Anbiya ayat 35 tentang cobaan
"Kami akan menguji kamu sekalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kamilah akan dikembalikan." (QS. Al-Anbiya:35)
Rasulullah bersabda:
Hadist Riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi tentang sebab akibat.

"Dan sesungguhnya bila Allah SWT mencintai suatu kaum dicobanya berbagai cobaan. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan memperoleh keridlaan Allah, dan barang siapa yang murka (tidak ridha) dia akan memperoleh kemurkaan Allah." (HR. lbnu Majah & Tirmidzi)

Allah SWT telah menjanjikan akan adanya "Kabar gembira bagi mereka yang sabar"
Firman Allah:
Firman Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 34-35 tentang patuh dan sabar.

"Berilah kabar gembira orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), yaitu mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hati mereka, dan sabar atas ujian yang menimpa mereka," (QS. Al-Hajj: 34-35)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 155-156 tentang segala adalah milik dan akan kembali kepada Allah.


"Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah (bahaya) mereka mengucapkan: "Inna Lillahi wa Inna llaihi Roji'un" (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami kembali." (QS. Al-Baqarah 155-156)

Mereka itulah yang termasuk golongan orang-orang yang sabar orang-orang yang mendapatkan berita gembira, sabar dalam menghadapi segala musibah. Siapa yang mampu menyelamatkan diri dari semua musibah yang menimpa manusia? Kekuatan manusia dalam menghadapi masalah itu amat terbatas. Karena itu kesabaranlah yang dituntut dalam menerima musibah tersebut.

Bagaimanapun juga kita sebagai manusia berusaha semaksimal mungkin mencoba menghindarinya, tetapi musibah itu tak pernah membiarkan manusia lepas dan luput dari kedatangannya.

Itulah sebabnya segala puji tertuju bagi Dzat Yang Maha kekal, Dzat Yang maha Agung dan selalu dimuliakan hamba-Nya. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai salah satu cara untuk mendapat pertolongan dari Allah.
Firman Allah:
Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 153 tentang pertolongan dan sabar.

"Wahai orang-orang yang beriman, mintalah, pertolongan dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153)

2. Dikala sakit hendaklah berbaik sangka kepada Allah
Jika penyakit yang menimpa Anda berlarut-larut dan penderitaan Anda seakan tak berujung maka janganlah berburuk sangka kepada Rab, dan jangan pula berkeyakinan bahwa Allah menghendaki keburukan bagi diri Anda, tidak ingin memberikan afiat kepada Anda. dan bahwa Dia telah berbuat dzalim kepada Anda, Ini merupakan kesalahan dan dosa yang nyata, sebab Allah terlepas sama sekali dari kedzaliman. Dia Maha Bijaksana dan Adil, Maha Pengasih dan Penyayang dan Maha Pemberi Karunia.
Firman Allah:
Firman Allah dalam Surat Yunus ayat 44 tentang Allah yang tidak pernah berbuat dzalim kepada manusia

"Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri." (QS. Yunus:44)
Firman Allah dalam Surat An-Nisaa ayat 40 tentang Allah yang tidak menganiaya manusia

"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorangpun walau sebesar zarah. (QS. An-Nisaa':40)
Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman

"Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya sesuatu yang diharamkan diantara kalian, maka janganlah diantara kalian saling dzalim-mendzalimi". (HR. Muslim)

Ketahuilah Allah itu ada dalam persangkaanmu. Jika engkau menyangka yang baik kepada-Nya, maka kebaikan itu akan diwujudkan bagimu, dan jika engkau menyangka yang buruk, maka Allah ada dalam persangkaanmu itu.

Sabda Nabi SAW:
Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim tentang Tuhan dalam persangkaan manusia

"Allah Azza Wa Jalla berfirman: "Aku berada dalam Persangkaan hamba-Ku, tentang-Ku, dan Aku Bersamanya tatkala dia mengingat-Ku"(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
Hadist Riwayat Muslim dan Abu Daud tentang berbaik sangka kepada Allah.

"Janganlah seseorang diantaramu yang meninggal, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah 'Azza wa Jalla". (HR. Muslim dan Abu Daud)

Berbaik sangka kepada Allah merupakan ibadah. Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW beliau bersabda :
"Sesungguhnya berbaik sangka itu termasuk ibadah yang baik"


3. Tawakkal dan Berserah Diri
Tawakkal menurut istilah adalah berserah diri kepada Allah. Makna lain bisa diartikan damai atau sejahtera. Berserah diri kepada Allah berarti juga sebagai pertanda bahwa kita sebagai makhluk lemah ini berharap akan limpahan rahmat-Nya, dalam bentuk bimbingan dan petunjuk agar dapat menjalani hidup dan kehidupan dengan ketentraman dan ketenangan batin.

Hidup yang jauh dari guncangan jiwa. Diantara tanda-tanda keimanan seseorang adalah tawakkal atau berserah diri kepada Allah SWT dalam segala urusan hidupnya. la senantiasa memohon pertolongan Allah di waktu susah, baik dikala sehat maupun dikala sakit.
Allah berfirman:
Firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 3 tentang tawakkal kepada Allah.

"Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan-ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At-Thalaq: 3)

Bila Anda sekarang dalam keadaan sakit dan telah mendapatkan pengobatan atau perawatan medis dari seorang ahli, mungkin juga dengan mempergunakan alat teknologi kedokteran yang canggih, maka hal itu adalah suatu ikhtiar yang sangat terpuji.

Namun demikian Anda tidak boleh berhenti dari memohon pertolongan kepada Allah dan senantiasa bertawakkal kepadaNya sebagai ikhtiar, untuk menuju kesembuhan, juga jangan lupa berdo'a sepenuh hati disertai dengan keyakinan yang kokoh bahwa Allah SWT akan menyembuhkan sakit yang sedang Anda derita. 
Firman Allah:
Firman Allah dalam Surat Asy-Syu'oro ayat 80 tentang Allah Maha Penyembuh.

"Dan bila Aku sakit, maka dialah (Allah) yang menyembuhkan aku" (QS. Asy Syu'oro: 80)
Firman Allah yang lain:
Firman Allah dalam Surat Al-Imran ayat 159 tentang Allah cinta orang-orang yang bertawakkal.

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berserah diri (bertawakkal) kepada-Nya." (QS. Al-Imran:159)

Semoga Anda dan kita semua dimasukkan dalam golongan orang-orang yang senantiasa bertawakkal kepada Allah SWT dan selalu mendapat rahmat daripada-Nya serta dicintai-Nya sesuai janji-Nya.

4. Sakit hendaklah diterima dengan ridla
Secara bahasa, ridla berarti rela atau senang. Menurut istilah, ridla artinya menerima dengan sepenuh hati.Dalam menghadapi musibah, bersikap sabar adalah satu keharusan, sedang yang lebih utama dari itu adalah bersikap ridla terhadap takdir Allah.

Orang yang ridha menerima musibah mempunyai sikap yang lebih positif yaitu menganggap Allah telah memilihnya sebagai orang yang tiba gilirannya menerima musibah itu dan bahwa Allah sekali-kali tidak mengharapkan keburukan dan ketentuan cobaan bagi makhluk-Nya melainkan menganugerahkan kebaikan.
Sabda Rasulullah SAW:
Hadist Riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah tentang ridla

"Barang siapa sakit satu malam, kemudian dia bersikap sabar dan ridla (dengan ketentuan) Allah ini, maka dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana padahari dia baru dilahirkan oleh ibunya (tanpa dosa)" (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)

5. Raja'
Raja' artinya berharap (harapan). Maksudnya, Allah adalah tempat segala harap. Sikap raja' rasa dan sikap yang penuh keyakinan sangat penting bagi manusia, sebab hidup di dunia ini penuh dengan cobaan, antara lain cobaan sakit. Ujian hidup atau keimanan itu pasti terjadi dengan ragam bentuk yang berbeda-beda.

Bagi kita yang selalu ingat kepada Allah akan tidak terlalu sulit menghadapi berbagi macam cobaan itu. Karena Allah yang memberikan cobaan-cobaan tersebut, maka kepada Allah jualah kita berlindung dan memohon kemudahan untuk menghadap ujian. Kuncinya terletak pada keikhlasan dan menerima dengan penuh tawakkal. Raja' adalah berharap yang baik serta keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang positif.

Apa yang diharapkan itu? Tentulah rahmat Allah dan kasih sayang-Nya. Oleh sebab itu bagi Anda yang sedang mendapat ujian (cobaan) dari Allah seberat apapun hendaklah jangan berputus asa dari rahmat Allah. Firman Allah:
Firman Allah dalam Surat Az-Zuntar ayat 53 tentang berharap kepada Allah

"Katakanlah hai hamba- hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az Zuntar:53
Rasulullah bersabda:
Hadist Riwayat Jama'ah dari Anas tentang ketidakbolehan berharap mati.

"Janganlah ada seseorang diantara mengharapkan mati karena bahaya (derita) yang menimpa dirinya bila terpaksa mengharapkan mati, hendaklah dia membaca 'Allahumma ahyinil maa kaanatil hayaatu khoiranii watawaffanii maa kaanatil wafaatu khairanii" 

(Ya Allah hidupkanlah aku apabila hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika mati itu lebih baik bagiku". (HR. Jama'ah dari Anas)

Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan kasih sayang Allah, terhindar dari sifat putus asa.

ADS Bawah Judul

ADS Kw Mid Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Tengah Artikel 3

ADS Kw Bawah Artikel